Slow Living, Seni Bertahan Hidup di Zaman Serba Cepat

Artikel ini dibuat oleh tim konten Dekoruma. Setiap hari, kami menerbitkan cerita mengenai rumah, ikuti di sini.

Kehidupan modern seakan tak henti mendambakan perubahan. Segala sesuatu yang ada di sekeliling kita terus bergerak maju. Teknologi hadir mempercepat pergerakan tersebut untuk melahirkan hal-hal baru. Kondisi ini menempatkan masyarakat pada fase kehidupan yang cepat dan penuh tuntutan. 

Kaum urban dituntut untuk terus mengejar segala pencapaian baik dalam hal materi, karier maupun status sosial. Tak ada jeda untuk merenung, apalagi berefleksi. Sekali kita berhenti untuk sekedar menghela nafas, maka artinya kita perlu lari dua kali lebih cepat demi mengejar ketertinggalan. 

slow living dengan pemandangan orang berjalan buramshutterstock.com

Menurut Dr. Stephanie Brown, psikolog asal Silicon Valley, masyarakat modern telah menetapkan “kecepatan” sebagai kunci “kesuksesan”. Namun Brown menilai, kombinasi keduanya justru memunculkan adiksi yang bisa menghantarkan mereka pada kelelahan fisik maupun mental berkepanjangan. 

Di sisi lain, gaya hidup serba instan juga dapat menurunkan kualitas hubungan sosial dengan orang-orang terdekat. Teknologi memungkinkan kita berkomunikasi dengan lebih cepat, namun acap kali menghambat terjalinnya interaksi sosial yang lebih intim.

perempuan duduk di sebelah cangkir dan bukushutterstock.com

Carlo Petrini telah lebih dulu menangkap permasalahan adiksi ini jauh sebelum internet dan sosial media menguasai dunia. Kemunculan fast food atau makanan cepat saji membuat Petrini dan sejumlah penggiat mindful eating di Italia geram.

Petrini memimpin gerakan Slow Food di tahun 1986 sebagai bentuk protes terhadap industri makanan cepat saji. Fast food tak hanya merugikan bisnis peternakan dan perkebunan lokal, namun juga mengubah esensi dari cara masyarakat mengolah dan mengonsumsi makanan. 

Pengolah makanan cepat saji menurunkan jumlah nutrisi asli dari makanan, belum lagi fast food yang cenderung dikonsumsi secara terburu-buru dan menerus berpotensi memunculkan sejumlah masalah kesehatan, seperti gangguan pencernaan dan obesitas.

interior kamar tidur dengan penyekat ruangan kayu dengan tanaman merambatshutterstock.com

Setelah Slow Food semakin banyak pergerakan yang mencoba menantang konsep gaya hidup cepat, seperti Slow Cities, Slow Parenting maupun Slow Reading. Semuanya berangkat dari dasar permasalahan yang sama, mempercepat segala hal tak selalu memberikan efek positif terhadap peningkatan kualitas hidup.

Sampai akhirnya, setiap gerakan antitesis terhadap tuntutan gaya hidup cepat berkembang dan terangkum lebih menyeluruh dalam Slow Living.

Dalam buku In Praise of Slowness: Challenging the Cult of Speed, Carl Honoré menyebut Slow Living sebagai seni menikmati hidup dengan berani menggunakan waktu agar dapat melakukan sesuatu dengan sebaik mungkin. 

Dalam Slow Living, seseorang perlu menjalani hidup dengan penuh kesadaran, kehati-hatian, dan ketenangan. Dengan begitu, dia akan terlepas dari tekanan yang muncul dari cara menjalani hidup dengan agresif, terburu-buru, dan instan. 

pria membaca buku di depan jendelashutterstock.com

Namun, Slow Living bukanlah sebuah justifikasi untuk bermalas-malasan. Slow Living memang tak mementingkan tingkat produktivitas, namun tetap mendorong untuk menghasilkan kreasi yang berkualitas.

Menurut Honoré, banyak hal berarti yang dilewatkan saat kita terlalu cepat mengerjakan sesuatu. Kita seakan lupa untuk memaknai hal yang kita kerjakan dan sukar untuk menguasai keterampilan tertentu. 

Setiap studi yang ditelusuri Honoré, sebagian besar mengungkapkan seseorang yang bekerja sambil diburu waktu cenderung tak bisa menumpahkan kreativitas secara maksimal dan kesulitan menemukan ide-ide yang inovatif. 

perempuan meditasi slow living di atas sofashutterstock.com

Untuk mulai menerapkan Slow Living, Honore menyarankan untuk mengurangi kegiatan dan beban pekerjaan. Fokuskanlah untuk mengerjakan hal-hal yang memiliki prioritas paling tinggi. “Dengan berfokus mengerjakan sedikit hal, kamu akan lebih merasa tidak begitu terbebani,” ungkap Honore.

Mencoba konsep Slow Living di lingkungan yang meninggikan budaya bekerja cepat juga bukan berarti tanpa tantangan. Maka dari itu, Hope menyarankan untuk tak ragu memberi penjelasan kenapa konsep Slow Living baik untuk meningkatkan performa kerjamu sehingga bisa diterima dengan positif oleh orang lain.

Selain dalam hal karier dan pekerjaan, Alan Castle dalam Psychology Today, menyebutkan terdapat manfaat lain yang bisa diperoleh saat menjalani hidup dengan lebih santai. 

slow living di interior ruang tamu skandinaviashutterstock.com

Komunikasi akan terjalin lebih efektif saat kita berbicara secara perlahan, dibandingkan dengan gaya komunikasi cepat yang rentan menimbulkan kesalahpahaman. Dalam hal pola asuh, Slow Parenting membiasakan anak untuk bersabar dalam memperoleh hal yang mereka inginkan. Hal ini berpengaruh terhadap meningkatnya kecerdasan emosi (EQ) anak seiring mereka beranjak dewasa. 

Keuntungan juga dirasakan untuk kesehatan tubuh. Slow Eating menyarankan agar kita mengunyah makanan secara perlahan guna memastikan makanan telah seratus persen hancur saat masuk ke dalam tubuh. Cara ini membantu melancarkan sistem pencernaan dan memperbaiki penyerapan nutrisi.

secangkir kopi dan kacamata di atas buku sebelah orang dudukshutterstock.com

Penerapan konsep Slow Living di lingkungan masyarakat perkotaan pun ternyata lebih esensial dari sekedar pilihan gaya hidup. Penelitian yang dilakukan oleh Professor Steven Neuberg dari Arizona State University mendapati fenomena Slow Living dimanfaatkan sebagai strategi untuk bertahan hidup oleh masyarakat yang tinggal di wilayah padat populasi.

“Dalam lingkungan dengan kepadatan populasi rendah, tidak ada persaingan yang kompetitif untuk memperoleh sumber daya yang tersedia. Strategi hidup lebih cepat dirasa lebih menguntungkan oleh kelompok masyarakat ini,” ungkap Neuberg melalui Science Daily. 

Sebaliknya di wilayah padat penduduk, masyarakat perlu berjuang lebih keras untuk memperoleh sumber daya yang jumlahnya terbatas.

Tingkat kompetisi yang tinggi membuat mereka memilih untuk lebih “menahan diri” dalam hal merencanakan kehidupan di masa depan. Untuk bisa sukses bertahan hidup, mereka perlu fokus meningkatkan kemampuan sehingga harus rela menunda pernikahan dan memiliki anak.

article_cicilan_0_percent
Voucher Dekohouse