Demi Rumah Anti Gempa, Perhatikan Dulu 5 Hal Berikut!

Artikel ini dibuat oleh tim konten Dekoruma. Setiap hari, kami menerbitkan cerita mengenai rumah, ikuti di sini.

Memang tidak bisa dipungkiri kalau Indonesia adalah salah satu negara yang akrab dengan bencana gempa bumi karena lokasi yang berada di tengah-tengah Cincin Api Pasifik. Sedikitnya enam gempa bumi besar sudah terjadi di Indonesia beberapa tahun belakangan, sehingga wajar jika pembangunan rumah anti gempa perlu diprioritaskan.

Rumah anti gempa diandalkan agar tidak mudah roboh ketika terjadi gempa besar, sehingga lebih aman bagi para penghuninya. Terinspirasi dari rumah tahan gempa yang telah menjadi standar bangunan di Jepang, perhatikan hal-hal berikut ketika hendak membangun rumah anti gempa.

1. Struktur rumah anti gempa (Earthquake Resistant Building)

rumah anti gempa berbentuk kubah bundar dengan banyak jendelainhabitat.com

Untuk membangun rumah anti gempa, setiap gedung yang dibangun sudah harus sesuai dengan standar struktur anti seismik (guncangan) yang baru. Standar ini sudah dimulai sejak tahun 1981 di Jepang agar semua bangunan memiliki struktur resistan yang tahan akan gempa bumi.

Struktur anti gempa bumi ini terdiri dari tiang, dinding dan lantai untuk menyerap guncangan gempa. Nah, di dalam struktur rumah anti gempa tersebut, standar bangunan terbagi menjadi dua: struktur keras agar tidak runtuh dan membahayakan penghuni saat terjadi gempa, dan struktur fleksibel dengan acuan bagian struktur utama yang bisa menekuk fleksibel sehingga bisa menyerap ‘kejutan’ atau shocking effect, sekaligus menstabilkan bangunan ketika ada guncangan keras.

2. Kualitas material infrastruktur rumah anti gempa

fondasi melayang rumah anti gempanewatlas.com

Hal yang paling perlu diperhatikan dari konsep rumah anti gempa adalah infrastruktur rumah itu sendiri. Nantinya, infrastruktur rumah dapat berpengaruh pada fleksibilitas rumah sesuai dengan struktur rumah dan material bangunan yang digunakan.

Infrastruktur ini terdiri dari bagaimana fondasi, pemilihan beton serta material yang tepat agar efek gempa pada rumah anti gempa bisa diminimalisir.

batu dan tanah untuk fondasi rumah anti gempashutterstock.com

Selain itu, sebelum memproyeksikan konstruksi tahan gempa, sangat penting untuk mengetahui kualitas tanah yang akan mendukungnya. Tanah dari komponen tebal seperti kerikil berpasir, pasir tanah liat terkonsolidasi yang terpapar fenomena alam, padat dan cenderung keras sangat cocok untuk dibangun rumah anti gempa.

Jika tanah yang akan dibangun rumah anti gempa memiliki karakteristik non-ideal, kamu bisa mengakalinya dengan mengganti atau merancang fondasi khusus.

3. Penggunaan bahan material yang ringan

material bangunan rumah anti gempa yang ringanbuildblock.com

Setelah tahu apa saja material bangunan yang dibutuhkan, langkah selanjutnya adalah pemilihan material rumah anti gempa yang tepat, yaitu dengan meminimalisir material bangunan yang sekiranya bisa menambah beban bangunan saat gempa.

Dahulu kala, nenek moyang kita merancang rumah dengan struktur kayu dan bambu atau rumbia dan ijuk, yang ternyata terbukti lebih kukuh ketika ada goncangan gempa. Untuk rumah anti gempa masa kini, kamu bisa menggantinya dengan pemakaian beton aerasi, bata ringan yag lebih baik daripada bata atau batako. Kemudian, atap rumah anti gempa bisa menggunakan baja ringan dan genteng aspal gypsum atau GRC sebagai partisi yang membuat massa rumah menjadi lebih ringan.

4. Bangunan harus mampu menyerap energi dari gempa bumi

rumah anti gempa berbentuk segitiga kerucuthomedit.com

Disebut sebagai damping structure atau struktur redaman, rumah anti gempa harus bisa menyerap energi dari gempa bumi agar mampu mengurangi efek gempa. Hal ini dibagi menjadi dua, yaitu tipe aktif yang menggunakan energi seperti listrik, dan jenis pasif yang menggunakan kekuatan fisik.

Untuk alasan ini, beton bertulang sangat ideal untuk interior rumah anti gempa karena sangat fleksibel dan juga sangat tahan gempa. Namun, baja harus memiliki hitungan yang tepat, campuran yang tepat dalam dimensi beton dan presisi untuk balok dan kolom. Jika dibandingkan dengan struktur tahan gempa bumi, damping structure dapat mengurangi intensitas gempa pada rumah anti gempa mulai dari 70 hingga 80 persen.

5. Konstruksi rumah anti gempa harus terikat satu sama lain

tampak interior rumah anti gempa dari kayuarchdaily.com.br

Sambungan antara kolom, pondasi dan sloof pun harus diperhatikan detailnya agar mempunyai kekuatan yang cukup untuk menahan beban gempa. Selalu pastikan bahwa setiap elemen struktur bangunan baik dari tingkat struktural atau non-struktural terikat dengan baik satu sama lain. Hal ini dilakukan agar rumah anti gempa bisa lebih kukuh dan bisa menyalurkan beban gempa secara merata.

Nah setelah membaca kelima hal di atas, apakah kamu sudah siap membangun rumah anti gempa bagi keluarga tercinta?

article_cicilan_0_percent
Voucher Dekohouse